TEORI vs PRAKTIK Reviewed by Momizat on . Oleh : DR. Rosidin, M.Pd. Teori sering dipandang sinis, karena dinilai sebagai omong kosong belaka (talk only). Sebaliknya, praktik dipandang luar biasa, karena Oleh : DR. Rosidin, M.Pd. Teori sering dipandang sinis, karena dinilai sebagai omong kosong belaka (talk only). Sebaliknya, praktik dipandang luar biasa, karena Rating: 0
You Are Here: Home » Karya Siswa dan Guru » TEORI vs PRAKTIK

TEORI vs PRAKTIK

logo 18 - andy.student.mercubuana-yogya.ac.idOleh : DR. Rosidin, M.Pd.

Teori sering dipandang sinis, karena dinilai sebagai omong kosong belaka (talk only). Sebaliknya, praktik dipandang luar biasa, karena dinilai sebagai aksi nyata (do more). Sesungguhnya teori dan praktik adalah pasangan yang saling membutuhkan. Teori tanpa praktik bagaikan orang lumpuh, sedangkan praktik tanpa teori bagaikan orang buta. Hanya dengan kolaborasi, keduanya dapat sukses meraih tujuan. Tanpa kolaborasi, teori akan pasif tanpa aksi, sedangkan praktik akan membabi-buta tanpa visi.

Ada sebuah anekdot, Mullah beraksi pada suatu malam yang diterangi bulan. Ketika melewati sebuah sumur, dia tercekam saat melihat bulan telah jatuh ke dalam sumur. Dia pun bergegas pulang dan membawa tali. Setelah kembali ke lokasi, Mullah mengikatkan kait pada tali dan melemparkan ke dalam sumur, sembari berkata: “Jangan khawatir, Adik Bulan… Bantuan sudah datang!”. Kait tersangkut pada sesuatu di sumur, dan Mullah menarik dengan sekuat tenaga. Tiba-tiba kait itu terlepas, sehingga membuat Mullah jatuh telentang. Menatap langit, dia sangat gembira saat menemukan bulan sudah kembali ke tempatnya yang tepat!. Dia pun berseru, “Alhamdulillah, aku kebetulan melewati jalan ini. Siapa yang tahu apa yang akan terjadi pada bulan tanpa bantuanku”. (Imam Jamal Rahman, 2014: 197-198).

Demikianlah gambaran orang yang melakukan praktik tanpa teori. Merasa sudah berbuat sesuatu, padahal perbuatannya salah arah, bahkan sia-sia. Seperti halnya orang yang mendirikan shalat berulang-ulang, namun dia tidak mengerti “teori” tentang shalat, sehingga dia shalat dalam keadaan tidak memiliki wudhu’. Sebaliknya, orang yang mengandalkan teori tanpa praktik ibarat orang yang memahami seluk beluk teori mengemudi, namun dia sendiri tidak mampu mengemudi. Sebagaimana seorang sales obat batuk yang mampu menjelaskan komposisi dan manfaat obat batuk tersebut kepada orang lain, namun dia sendiri menderita batuk akut.

Jika menengok pendidikan Islam, sungguh miris keadaannya. Dominasi teori-teori Barat terjadi di berbagai lini pendidikan Islam, tanpa mampu dilawan dengan teori-teori versi Islam. Contoh sederhana adalah evaluasi pembelajaran yang didasarkan pada teori taksonomi Bloom (kognitif, afektif dan psikomotorik). Inilah kiranya “harga mahal” yang harus dibayar atas pandangan sinis yang ditujukan pada teori, yaitu minimnya teori dalam pendidikan Islam, sehingga harus mengimpor teori dari pendidikan Barat.

Bertalian dengan problem tersebut, penulis mengajukan gagasan pembenahan teori pendidikan Islam melalui perspektif teoretis sufistik: takhalli (pembersihan), tahalli (penghiasan) dan tajalli (penampilan). Setidaknya ada tiga aspek yang menjadi sasaran takhalli (pembersihan). Pertama, stigma negatif terhadap teori. Teori perlu dipandang sebagai ilmu yang sudah teruji melalui proses panjang yang bersifat rasional maupun empiris. Dengan demikian, teori seharusnya diberi apresiasi yang tinggi sebagaimana apresiasi terhadap ilmu. Kedua, pengembangan keilmuan yang meluas. Artinya, banyak pakar pendidikan Islam mengangkat isu-isu yang identik, namun dari perspektif yang beragam, sehingga pengembangan keilmuan bersifat meluas, bukan mendalam. Akibatnya, pendidikan Islam kaya akan konsep, namun miskin teori, karena para pakar lebih senang mengeskplorasi konsep-konsep baru, dibandingkan menguji-coba dan mendalami suatu konsep tertentu hingga mencapai taraf teori. Ketiga, rendahnya budaya riset. Untuk menghasilkan satu teori, dibutuhkan puluhan bahkan ratusan proses riset yang bersifat rasional maupun empiris. Sayangnya, pakar pendidikan Islam masih memiliki budaya riset yang rendah. Bahkan problem ini mendera para pakar di Indonesia secara keseluruhan, berdasarkan pernyataan Ketua Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Iskandar, bahwa saat ini (2017) jumlah peneliti Indonesia hanya 90 orang per 1 juta penduduk, bahkan jumlah institusi riset di Indonesia masih bisa dihitung dengan jari (www.koran-sindo.com).

Sasaran tahalli (penghiasan) dapat ditujukan pada tiga aspek berikut. Pertama, ijtihad kreatif terhadap al-Qur’an dan Hadis. Dalam hal ini, Tafsir Tarbawi dan Hadis Tarbawi dapat dijadikan sebagai titik pijak untuk memformulasikan konsep-konsep khas pendidikan Islam. Misalnya konsep pendidikan vokasional dalam al-Qur’an; konsep pendidikan multikultural dalam Hadis; dan sebagainya. Kedua, komparasi non-apologetik terhadap teori-teori pendidikan Barat. Artinya, teori-teori Barat tidak sekedar dijustifikasi, apalagi disikapi secara apologetik dengan pernyataan, “itu sudah ada dalam al-Qur’an”. Alih-alih ada upaya yang serius untuk membandingkan teori-teori Barat dengan konsep-konsep khas Islam. Misalnya membandingkan antara teori taksonomi Bloom (kognitif, afektif dan psikomotorik) dengan konsep khas Islam (ilmu, akhlak dan amal). Ketiga, kerja-sama antar pakar dan praktisi pendidikan Islam. Formulasi konsep pendidikan Islam yang diperoleh melalui proses pertama dan kedua perlu diuji-coba secara empiris dan ditelaah secara rasional, sehingga berpotensi untuk dikembangkan menjadi teori khas pendidikan Islam.

Adapun bentuk tajalli dari “teori” pendidikan Islam antara lain: Pertama, teori khas pendidikan Islam yang mapan. Misalnya teori belajar al-Qur’an yang mapan, sehingga dapat diimplementasikan di berbagai belahan dunia, sebagaimana teori belajar Quantum Learning. Kedua, praktik pendidikan yang didasarkan pada teori khas pendidikan Islam. Misalnya evaluasi pendidikan Islam tidak hanya mengacu pada taksonomi Bloom, melainkan juga mengacu pada Maqashid al-Syariah (tujuan-tujuan Syariat Islam) yang meliputi pemeliharaan agama (hifzh al-din), jiwa-raga (hifzh al-nafs), akal (hifzh al-‘aql), keturunan (hifzh al-nasl), harta benda (hifzh al-mal) dan harga diri (hifzh al-‘irdh). Ketiga, tumbuh-kembangnya lembaga pendidikan formal (PAUD, RA, MI, MTs, MA, PTAI) yang menyelenggarakan praktik pendidikan yang didominasi teori khas pendidikan Islam.

Tulisan ini mencoba mengingatkan kembali posisi umat muslim sebagai ummatan wasathan yang bersifat adil dalam menyikapi segala sesuatu, termasuk posisi teori dan praktik. Teori tidak lebih inferior dibandingkan praktik, sebagaimana praktik tidak lebih superior dibandingkan teori. Keduanya adalah “teman sepermainan”, layaknya relasi antara membaca dan menulis. Wallahu A’lam bi al-Shawab.

Sumber gambar : http://www.andy.student.mercubuana-yogya.ac.id

© 2016 MA Almaarif Singosari

Scroll to top